Kamis, 22 Maret 2018

Momen yang Cuma Ada di Tahun Pertama Kuliah



Momen yang Cuma Ada di Tahun Pertama Kuliah
Jurusan dan Perkuliah
Pas baru masuk kuliah, rasanya pengen cepet-cepet udahan jadi maba. Pengennya segera  berubah status, dari maba lucu (tapi culun) menjadi macan dan macanwati penguasa kampus. Roarrr!
But wait! Ternyata bagi para senior, ada momen-momen yang mereka kangenin di tahun pertama kuliah, soalnya momen-momen ini nggak terulang di tahun-tahun berikutnya. Apa aja, ya?
Nongkrong Rame-Rame
“Yang paling dikangenin di masa awal kuliah adalah nongkrong rame-rame sekelas. Wah, udah kayak mau ‘perang’, deh, saking banyaknya orang. Kita nongkrong tiap hari, kapan aja dan di mana aja. Kalau lihat ada space kosong di kampus, pasti langsung kita tongkrongin. Hehehe…
Momen-momen kayak gini cuma ada di tahun pertama kuliah. Setelah itu, pada sibuk dengan urusan masing-masing.”
Youthmanual
(Husin, Komunikasi Internasional, Universitas Muhammadiyah Surakarta angkatan 2010)
Nangis Bareng Seangkatan
“Kejadian ini terjadi di akhir Mabim (masa bimbingan), semacam acara Ospek di kampus. Ceritanya waktu itu, gue dan teman-teman seangkatan lagi seru-seruan. Eh, tiba-tiba datang para Komdis (komisi kedisiplinan). Itu lho, senior yang “tugasnya” marah-marah. Trus, angkatan gue langsung dimarahin habis-habisan karena dianggap nggak disiplin.
Kita yang tadinya lagi senang-senang, jadi kesel banget! Setelah marah-marah, senior nyuruh kita semua balik badan. Ternyataaa… mereka udah nyiapin surpise untuk menyambut kita sebagai bagian dari keluarga besar jurusan. Lengkap dengan spanduk dan confetti segala, lho! Gue dan teman-teman seangkatan jadi speechless. Trus, langsung nangis semua gegara terharu.”
Youthmanual
(Safina, Vokasi Akuntansi Universitas Indonesia, Depok, angkatan 2014)   
Meloloskan Diri dari Ospek
“Pengalaman paling berkesan di tahun pertama kuliah adalah pas Ospek! Sebagai mahasiswa “cerdik” yang nggak pengen dikerjain senior tengil, saat pendaftaran Ospek, saya bikin berbagai alasan untuk cari aman. Seperti lagi kurang sehat lah, sakit ini-itu lah, dan sebagainya.
Trus, di hari pertama Ospek, saya datang terlambat gara-gara begadang demi menyelesaikan tugas dari senior.
Saya nggak panik, sih, soalnya udah berbekal strategi tadi. Karena dianggap kurang fit, saya dapat pin putih. Ini adalah senjata paling ampuh, karena mahasiswa yang diberi pin putih selalu dapat keringanan hukuman. Saya pun terhindar dari kekejaman senior sepanjang Ospek, sementara teman saya yang sama-sama telat, dihukum seharian.”
Youthmanual
(Muhammad, Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Angkatan 2009)
Mahasiswa Paling Rajin
“Di tahun pertama kuliah, aku rajin banget! Catatanku rapih dan lengkap, sampai-sampai catatanku nyebar. Difotokopi oleh satu angkatan untuk bahan belajar ujian.
Trus, kalau kelas dimulai jam 07.20, aku sudah hadir di kampus dari jam setengah 7 aja, dong! Soalnya ‘kan masih jadi anak baru, jadi masih serba takut. Khawatir nggak bisa ngikutin mata kuliah dan takut IP jelek.
Kalau sekarang sih, aku udah nggak rajin nyatet. Malah gantian, aku yang suka minta fotokopi catatan teman. Datang ke kampus juga pas-pasan sama jam masuk kelas. Soalnya, sekarang udah tau “medan perang” kampus, hehehe...”
Youthmanual
(Sarah Venezia, Manajemen, Universitas Bina Nusantara, Jakarta, angkatan 2012)  
Kenalan Sama Seluruh Kampus
“Pas tahun pertama kuliah, kami diwajibkan kenalan sama seluruh senior, dosen, dan karyawan di kampus. Kenalannya harus dengan cara nyamperin satu per satu, lho! Malu sih, iya, tapi berkesan banget. Dan ternyata berat juga bagi waktu untuk kenalan dan kuliah.
Kenalan itu ‘kan bagian dari tugas Mabim. Nah, kalau melanggar aturan Mabim, kita bakal kena hukuman bikin cotton rollpellet dan ball—berbagai bentuk gulungan kapas yang biasa dipakai dokter gigi—untuk bakti sosial. Aku sempat kena hukuman ini. Saking banyaknya kapas yang harus dibentuk, tanganku sampe mati rasa.”
Youthmanual
(Naryn, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta, angkatan 2014)
Masanya “Ambi”
“Di awal kuliah, semangat kuliah mahasiswa biasanya masih membara banget, deh. Anak-anak biasanya lagi pada “ambi” alias ambisius, terutama dalam hal target lulus cum laude.
Ada teman yang yang “ambi”-nya baik—misalnya, suka bagi-bagi ilmu dan info—tapi ada juga teman yang “ambi”-nya ngeselin. Misalnya, dia diem-diem aja saat punya bahan kuliah atau kisi-kisi soal ujian, berhubung nggak mau tersaingi oleh yang lain. Biasanya, mahasiswa “ambi” yang kayak gini cuma baik sama peer group atau pacarnya aja. Hahaha…
Nah, kalau sudah lewat tahun pertama kuliah, keambisiusan orang-orang biasanya berkurang.”
Youthmanual
(Rima, Administrasi Niaga Universitas Indonesia, Depok, angkatan 2012)
"We’re Gonna be the Best Dentist!"
“Di tahun pertama, senior benar-benar membimbing kita, para mahasiswa baru. Setiap dua minggu sekali, aku dan teman-teman seangkatan dikumpulin dan diajarin tentang kedisiplinan, solidaritas, kemandirian serta tanggung jawab. Kita juga diingetin kalau kebersamaan itu penting. Para senior juga suka sharingpengalaman kuliah mereka, dan omongan para senior itu sering ngena banget.
Salah satu yang paling aku ingat selama tahun pertama itu adalah yel-yel yang dibuat senior untuk menyemangati kita. ‘We are gonna be the best dentist!’ I still believe in those wordsSomeday, it will come true.
Youthmanual
(Aliya, Fakultas Kedokteran Gigi Trisakti, Jakarta, angkatan 2014)
Freshers, MOS Tanpa Senioritas
“Di kampus saya ada kegiatan namanya Freshers, semacam kegiatan perkenalan ke kehidupan kampus dan acara sosial untuk anak baru, selama seminggu. Semacam MOS (Masa Orientasi Siswa), gitu, tapi nggak pake senioritas. Palingan ada games yang bikin kita kerjasama sama mahasiswa lain.
Contoh games-nya, mahasiswa baru dibagi ke beberapa kelompok, trus disuruh keliling kampus nyari harta karun yang disiapin panitia. Trus, ada lomba membuat menara dari spaghetti dan marshmallow. Permainannya kayak permainan anak kecil, sih, tapi efektif bikin mahasiswa jadi saling kenal.”
Youthmanual
(Muhammad Idrus, Mechanical Engineering, Queen Mary University of London, Inggris, angkatan 2013)
***
Masa-masa freshman belum tentu masa yang paling indah. Malah bisa dibilang, masa penuh cobaan. Antara ribet adaptasi kuliah, rempong tugas masa bimbingan, plus masih dianggap anak bawang. *nunduk lesu*
Eh tapiii, seperti cerita para senior tadi, momen-momen di masa ini nggak bisa terulang, dan akan jadi kenangan tak terlupakan #tsaaahhh.
Jadi, apa cerita seru kamu di tahun pertama kuliah?    

(sumber gambar: dokumentasi pribadi, Youtube/loveliveserve)

Semester Pendek Apaan, sih?


Semester Pendek Apaan, sih?
Kehidupan mahasiswa
Semester pendek adalah semester singkat yang diadakan di antara semester genap dan ganjil pada setiap tahun ajaran universitas.
Misalnya, selesai Semester 2, ‘kan pada libur panjang, tuh, sebelum masuk Semester 3. Nah, pas liburan tersebut, diadain deh yang namanya semester pendek.
Seberapa pendek?
Durasi semester pendek setiap fakultas berbeda-beda, tapi biasanya, semester pendek berlangsung sekitar empat minggu.
Apa tujuan semester pendek?
Tujuannya ada dua. Pertama, untuk remediasi atau perbaikan nilai.
Misalnya, di Semester 2 nilai kamu untuk mata kuliah X jelek, cuma dapat C, bahkan D atau E alias fail. Nah, di semester pendek, kamu berkesempatan ngambil mata kuliah X lagi, dengan durasi yang lebih pendek, untuk memperbaiki nilai tersebut.
Kedua, untuk akselerasi atau mempercepat masa studi.
Semasa kuliah sarjana, umumnya kita harus menyelesaikan 144 SKS. Kalau mau lulus dalam waktu 4 tahun, kita harus menyelesaikan 18 SKS setiap semester, atau 36 SKS dalam setahun (1 tahun = 2 semester, maka setiap semester = 18 SKS). Let’s say diantara semester ganjil dan semester genap, kamu rajin ngambil semester pendek sebanyak 6 SKS. Maka dalam setahun, kamu bisa menyelesaikan 42 SKS. Ini berarti kamu bisa lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun sahaja. Luar biasa!
Walaupun ini berarti deadline untuk nyari pendamping wisuda jadi lebih mepet, sih #eh
Kalau tujuan kamu ngambil semester pendek adalah untuk akselerasi, kamu bisa mengambil mata kuliah-mata kuliah yang baru akan dibuka di semester yang akan datang. Colong start, gitu.
Sayangnya, nggak semua fakultas menawarkan semester pendek akselerasi begini. Beberapa fakultas hanya menawarkan mata kuliah yang diulang dari semester sebelumnya, untuk perbaikan nilai aja.
Apa aja syarat umum untuk ngambil semester pendek?
Pertama, biasanya ada biayanya.
Kedua, kalau kamu ngambil semester pendek untuk remediasi, nilai kamu untuk mata kuliah ini sebelumnya harus C, D, atau E. Kamu nggak bisa ambil semester pendek untuk mengubah nilai B menjadi A.
Ketiga, kalau kamu ngambil semester pendek untuk akselerasi, biasanya IP atau nilai rata-rata kamu di semester sebelumnya harus mencapai nilai minimal. Misalnya, minimal 3,2. Tapi syarat ini beragam, nggak semua fakultas atau prodi memberlakukan syarat yang sama.
Selain yang udah disebutkan diatas, tiap fakultas mungkin punya syarat-syarat tambahan yang berbeda-beda. Check with your campus!
Apa, sih, untung rugi ngambil semester pendek?
Untungnya, sih, jelas ya. Kamu jadi bisa memperbaiki nilai yang jelek di semester sebelumnya, atau nyicil jumlah SKS, sehingga mempercepat masa studi.
Ruginya, ada yang bilang bahwa semester pendek membuat mahasiswa jadi asal ngejar SKS aja, tapi ilmu pelajarannya sendiri kurang dikuasai, akibat durasi kuliahnya yang pendek.
Mahasiswa juga jadi bisa meremehkan mata kuliah di semester reguler. Bikin agak males-malesan, gitu, karena kalau nilainya jelek, toh bisa perbaikan di semester pendek. Hal ini yang menyebabkan nggak semua fakultas atau prodi menyelenggarakan semester pendek setiap tahun.
Selain itu, karena umumnya semester pendek itu nggak gratis, kamu harus pintar-pintar berstrategi. Misalnya, kampus kamu hanya menawarkan semester pendek untuk remediasi, nggak akselerasi. ‘Kan sayang ya, ngorbanin duit dan waktu liburan hanya untuk memperbaiki nilai. Kalau ikut semester pendek untuk akselerasi, masih OK lah, keluar duit supaya cepet lulus. Tapi kalau untuk remediasi, rugiii…
Kerugian lainnya, kalau kamu ngambil semester pendek, kamu harus ketemu kampus lagiii, kampus lagi, sementara teman-teman lain leha-leha liburan, pulang kampung, atau cari pengalaman lewat magang. Yah, namanya juga pilihan, yaa…
Makanya kamu buruan nentuin pilihan, deh, mau pacaran sama yang mana. Jangan semuanya digebet! #eh
Youthmanual
Mending ambil semester pendek atau liburan? #kelas #sepi #amat


(sumber gambar: shutterstock, em2a.wordpress.com)

10 Hal yang Penting Dilakukan di Tahun Pertama Kuliah



Laila Achmad Laila Achmad

  • Sep 04, 2015
10 Hal yang Penting Dilakukan di Tahun Pertama Kuliah
Kehidupan mahasiswa
1. Rajin Masuk Kelas
“Ya eyalah!” mungkin begitu pikir kamu. Eits, nggak segampang itu, lho!
Saat kuliah, nggak ada orang yang maksa atau bahkan ngingetin kamu untuk masuk kelas. Kalau kamu bolos, nggak ada yang peduli, karena risiko ditanggung sendiri. Materi kuliah pun bisa didapat di textbookatau fotokopian. Kalau ada urusan catat-mencatat, bisa pinjam catatan teman.
Bikin tergoda bolos nggak, sih?
Tahan godaan tersebut. Tetaplah rajin masuk kelas, karena pertama, mayoritas mata kuliah sangat mementingkan absensi, dan tandatangan absensi nggak selalu bisa “dititip” teman (baca: dipalsukan).
Kedua, hampir selalu ada hal berharga yang bisa kamu dapatkan di kelas, seperti bocoran kisi-kisi ujian, pembagian kelompok belajar, atau arahan tugas. Jangan selalu mengandalkan teman untuk info-info sampingan begini.
Yang lebih gawat, kadang dosen ngasih kuis mendadak yang nilainya sangat diperhitungkan. Nah lho!
2. Get Organized
10 Hal Penting Dilakukan di Tahun Pertama Kuliah
Kalau mau bahas soal getting organized saat kuliah, pembahasannya bisa jadi satu artikel sendiri, nih.
Tapi menurut versi Youthmanual, berikut poin-poin pentingnya:
  • Beli beberapa folder, masing-masing untuk satu mata kuliah. Setiap mata kuliah biasanya sering bagi-bagi selebaran, seperti silabus dan fotokopian materi. Kadang selebaran ini berguna nantinya, jadi sebaiknya simpan dengan rapih.
  • Simpan tugas-tugas paper yang sudah dinilai dan dikembalikan oleh dosen.
  • Gunakan planner atau agenda, entah yang berbentuk buku atau elektronik. Agenda elektronik (misalnya, aplikasi di smartphone) kayaknya lebih praktis ya, gaes, tapi buku agenda biasanya lebih awet dan accessible.
  • Rajin-rajin buat—dan cek—to-do list.
  • Manfaatkan kalender sebaik mungkin. Lagi-lagi terserah mau pake kalender hadiah dari bengkel yang ada gambar cewek seksinya, atau kalender elektronik (tips: Google Calendar is reaaally good). Catat semua deadline tugas, tanggal ujian, jadwal dosen, dan hari libur.
3. Jaga Kesehatan
Salah satu problem yang paling sering menimpa mahasiswa baru adalah jatuh sakit, bahkan sampai dirawat di RS.
Karena ini isu serius, pembahasannya juga perlu satu artikel sendiri kali, ya.
Untuk sekarang ini, berikut tips versi singkatnya: jangan ketagihan kafein, atur keuangan untuk selalu bisa makan “benar”, jangan menggantungkan diri kepada junkfood, banyak makan sayur, banyak minum air putih, maksimalkan kegiatan di siang hari supaya nggak begadang, dan olahraga.
Phew! Do I sound like your mom?
4. Jalan-Jalan
10 Hal Penting Dilakukan di Tahun Pertama Kuliah
Di hari-hari awal kuliah, jelajahi seluruh kawasan universitas kamu. Cari tahu lokasi dan sistem fasilitas-fasilitas yang mendukung kegiatan perkuliahan (perpustakaan, computer centre, studio praktek, rektorat, markas BEM) maupun kebutuhan sehari-hari (warung makan, pujasera, pangkalan ojek, bank, gym, minimarket, klinik, tempat ibadah).
Dulu saya baru kenalan sama perpustakaan pusat setelah tiga tahun kuliah, dan rasanya nyesel banget! So find out what facilities your university has to offer as soon as possible.
Walaupun kamu mahasiswa baru, jangan segan-segan mengeksplor, ya. Jangan takut sama senior. Takutnya sama pojokan-pojokan berhantu di universitas kamu aja, hiii… #bikinparno
5. Selesaikan Masalah Dengan Teman Sekamar
Teman sekamar di kos ataupun asrama belum tentu cocok sama kamu. That’s okay! Nggak ada aturan yang bilang kamu harus sahabatan dengan teman sekamar, kok. Yang penting, kamu harus bisa bekerjasama untuk jangka waktu panjang.
Dari awal, tentukan batasan dan buat aturan, misalnya dalam hal pinjam-pinjaman barang dan jam tidur.
Kalau kamu merasakan sesuatu yang nggak sreg dengan teman sekamar, langsung bicarakan baik-baik dan cari solusinya. Jangan dipendam sampai meledak, apalagi kalau kamu sampai harus pindah kosan.
Jika sebelumnya kamu nggak terbiasa sekamar dengan orang lain, itung-itung ini ajang latihan melatih kesabaran dan rasa toleransi.
6. Ikut Sesuatu
“Sesuatu” ini maksudnya organisasi atau komunitas, ya. ‘Srah, deh, mau organisasi atau komunitas apaan. Mau ikut Komunitas Mahasiswa Pencinta Batu Akik Bulu Macan juga bisa!
Ada banyak manfaat bergabung di organisasi atau komunitas, diantaranya memperluas pergaulan, memberikan pengalaman baru, serta memberikan hardskills dan softskills kece yang nggak didapat di dalam kelas. Kamu juga akan mendapat rasa sense of belonging, karena bergabung dengan sekelompok orang yang punya minat sama.
Plus, lumayan ‘kan buat nambah-nambahin daftar pengalaman di CV?
7. Dekati Senior
Dekat dengan senior itu berharga, lho. Berawal dari nongkrong dan ngobrol santai, ujung-ujungnya kamu akan dapet banyak “ilmu informal” yang nggak mungkin ada di kelas atau sekretariat. Misalnya, cara menguasai mata kuliah tertentu, cara ngadepin dosen galak, atau info kos-kosan dan tempat makan enak.
Mereka juga bisa bantu-bantu kamu, misalnya, dengan minjemin buku teks wajib, transfer-transfer file film dan musik asik, dan sebagainya Sebagai bonus, senior biasanya asik diajak nongkrong bareng. They usually have the best dirty jokes and card tricks!
Kedekatan dengan senior ini paling efektif terjalin lewat Ospek. Jadi kalau kamu emang pengen dekat dengan senior, jangan lewatkan Ospek!
8. Akrab Sama Dosen
10 Hal Penting di Tahun Pertama Kuliah
Sama halnya dengan akrab sama senior, akrab sama dosen pun banyak sekali manfaatnya.
Samperin dosen saat mereka lagi santai di kantor atau seusai kelas, trus tanya segala hal yang pengen kamu tanyakan soal mata kuliah beliau, atau minta rekomendasi bacaan yang bisa bantu kamu memahami materi.
Dosen (kebanyakan) berbeda dengan guru sekolah. Mereka biasanya lebih terbuka. Dijamin, dosen lebih menghargai mahasiswa yang aktif-aktif-bawel-dikit daripada diem-diem-nilai-jeblok.
9. Buka Rekening Baru
Setelah jadi mahasiswa, biasanya kamu harus buka rekening di bank yang berafiliasi dengan universitas, demi keperluan bayar-bayaran.
Tapi kalau kamu perlu buka rekening lainnya untuk kebutuhan sehari-hari, go for it. Hal ini akan melatih kamu mengelola keuangan pribadi. Pilih bank yang memberikan banyak kemudahan (misalnya, mobile banking, ATM setoran tunai), punya kantor cabang dekat kampus, lalu buat ATM-nya.
Tapi jangan bikin kartu kredit dulu, ya. Percayalah, godaan saiton ngutang demi belanja itu nyata, saudara!
10. Jadi Mandiri dan Proaktif
Tentunya, orangtua atau keluarga masih akan bantu kalau kamu terlibat masalah besar. Tapi di luar itu, kamu harus mandiri. Harus bisa atur makan, atur keuangan, atur waktu, jaga kesehatan, jaga keamanan, memecahkan masalah, bahkan cuci baju sendiri.
***
Yang paling penting, kamu nggak boleh lupa dengan peran utama kita sebagai mahasiswa. Mungkin kamu bayar mahal kuliah untuk mendapatkan gelar, tetapi gelar harus didukung dengan ilmu. Dan ketika sudah jadi mahasiswa, orangtua nggak akan menuntun kita dalam mencari ilmu tersebut. Maka jadilah mahasiswa yang proaktif and go get that knowledge!


(sumber gambar: pcmag.com, atmajaya.ac.id, facebook.com/Meme-Comic-Mahasiswa)